i think...

Kamis, 14 April 2011

Yang Kini Terasa Manis

sekarang bulan sudah bergulir menjadi April.Perlahan saya teringat akan rangkaian perjuangan saya di tahun lalu. Tepatnya saat saya sedang merajut mimpi-mimpi meraih sarjana di perguruan tinggi nomor satu di negeri ini :)

Bulan April menyimpan kenangan tersendiri,, saat itu saya sudah mobat mabit menyiapkan bab 2 & 3. Akan tetapi karena satu kesempatan emas, saya menunda revisi skripsi hingga menjelang bulam Mei. Menunda bukan perkara yang mudah. Saya harus membuang perasaan resah dan gelisah karena takut tidak lulus tepat waktu. Namun sekarang.. ooh,,, indahnya dunia mengenang rasa yang dulu pahit mengigit kini begitu manis


dibawah ini adalah paragraf2 manis yang mengisi lembar ucapan terimakasih di skripsi saya:





Alhamdulillahhirobbilalamin Puji syukur tiada henti saya panjatkan kepada Allah SWT karena atas ijin, berkat dan rahmat-Nya, akhirnya saya dapat melewati salah satu momen terpenting dalam hidup sebagai mahasiswa Program Studi Belanda di Universitas Indonesia. Dengan selesainya skripsi ini maka berakhir perjuangan saya untuk meraih gelar yang dinanti. Selain mukjizat dari Tuhan, penyusunan skripsi ini tidak akan pernah berhasil tanpa bantuan-bantuan orang ‘sakti‘ di sekitar saya dan oleh karenanya, saya ingin menghaturkan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya pada mereka.


Rasa terimakasih pertama saya haturkan kepada Ibu Christina T. Suprihatin, S.S. M.A, selaku pembimbing tunggal serta pembimbing akademis. ‘Kesaktian“ dan kesabaran beliau dalam membimbing dan meluruskan jalan pikiran saya, akhirnya membuat saya belajar banyak dari sosoknya yang kini juga menginspirasi. Selanjutnya ucapan terimakasih disampaikan kepada Ibu Dr. Lilie Mundalifah Roosman dan Ibu Mursidah M. Hum. yang telah membaca, menguji dan memberi masukan-masukan yang sangat berguna. Selain itu, saya juga berterimakasih kepada segenap dosen Program Studi Belanda yang telah mendidik selama 4 tahun hingga membuat saya siap menjemput masa depan yang gemilang.


Pihak-pihak lain yang membantu keberhasilan saya adalah segenap pengurus perpustakaan di FIB UI, PP UI serta perpustakaan di Erasmus Huis. Bantuan pihak perpustakaan memudahkan proses penulisan skripsi saya. Kemudian kepada pihak perusahan PT. Mutiara Warna Indonesia yang secara tidak langsung telah memfasilitasi saya untuk mengakses data tanpa batas. Peran Bapak Ibnu Wahyudi yang telah bersedia meluangkan waktu untuk bertukar pikiran juga turut berjasa dalam penulisan ini. Bantuan lainnya datang dari kakak-kakak senior, Febrianita, Julia, Dahlia, Anissaa, Anda, Achmad Solikhin dan Nancy. Peran mereka sangat membantu meredakan pergulatan batin saya yang berkepanjangan. Selain itu, peran-peran dari dari Dennis, Don dan Prastowo yang selalu ikut berdiskusi untuk keberhasilan ini juga tidak akan saya lupakan.


Benih-benih kesuksesan yang saya petik saat ini, tentunya berkat keberhasilan penanamannya di rumah. Papa saya, alm. Nizam Burhan adalah satu-satunya alasan saya berada di UI dan meskipun kini dia tengah menari menuju taman surga, bukan berarti saya harus mematikan mimpinya yang dititipkan pada saya.Mama Nurzulaicha yang selalu mendampingi dengan doa dan dukungannya sepanjang masa. Tiga orang kakak lelaki, Riski, Ilham dan Harris Nizam adalah tiga pahlawan yang tak pernah membiarkan saya sengsara walau sekejap saja. Seorang pahlawan perempuan kecil juga saya miliki, Bulan Nizam yang kian menyempurnakan kasih sayang dari keluarga saya. When I count on my blessings, my family is always on the top of my list, thanks God.

Alhamdulillah, sampai saat ini, saya selalu berada dalam lingkaran pertemanan yang penuh cinta. Seluruh teman baik saya dari angkatan 2006 membuat hari-hari saya selama 4 tahun selalu bercahaya, hingga tahap persidangan skripsi ini, kasih mereka tetap tulus terasa. Teman-teman yang juga menjadi tim sukses skripsi (Aulia, Lia, Tya, Gita, Anin, Ucha, Ays) yang bersedia meminjamkan harta dan terutama mata mereka untuk mereduksi keteledoran saya. Mantan teman sekamar dan teman sekampung saya, Dita yang setia menyemangati. Di antara teman-teman baik tesebut, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal Aninditya, Dwina, Fina, Isty, Ria dan Vania lebih baik lagi dan terimakasih untuk jalinan persahabatan yang semakin memperindah warna kehidupan saya.


Terimakasih kepada segenap keluarga besar Burhan dan Amin Adios serta sahabat-sahabat yang selalu menyemangati walau jauh mereka berada.Sebenarnya masih banyak pihak-pihak lain yang turut berjasa namun tidak dapat disebutkan satu-persatu. Walaupun demikian, ucapan terimakasih tetap saya kirimkan dengan sepenuh hati.

Saya berharap semoga Allah SWT, berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Mereka semua telah berjasa menghiasi pemikiran saya sehingga lahirlah skripsi ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya sebagai sebuah teks yang manusiawi dan semoga saja skripsi ini membawa manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.



Depok, Juni 2010




Penulis





saat sidang skripsi "bertegangan tinggi"(17 Juni 2010 )

mengeluhkan yang pertama

Alles is moeilijk om te beginen (semua permulaan itu selalu sulit) ungkapan yang terdengar lebih mirip keluhan itu datang dari salah satu dosen favorit saya., mevrouw Andrea yang tengah kesulitan menghidupkan proyektor yang berisi bahan-bahan kuliah semantik pragmantik (semprag) dalam bahasa Belanda. Setelah dibantu beberapa teman-teman seangkatan hingga pengurus gedung, akhirnya proyektor dan perangkat lainnya tersambung dan bersinergi menampilkan bahan ajar yang isinya sangat menarik.


Kali ini saya tidak akan membahas betapa menyenangkannya kelas semprag bersama mevrouw kami tersayang, tetapi akan membahas mengenai keakuratan pernyataan yang semakin hari semakin terbukti,bahwa semua permulaan itu selalu sulit.

Jika dikaitkan dengan pernyataan-pernyataan umum, permulaan, awalan atau hal-hal yang diikuti kata pertama memang cenderung sulit tetapi tak terlupakan.
Hari pertama sekolah, tahun pertama kuliah, kerja pertama, cinta pertama, ciuman pertama atau yang paling populer adalah malam pertama.

Susah, sakit, sedih, bahkan tidak jarang kita sempat depresi karena istilah yang bersambungan kata pertama itu. Tapi banyak juga yang merasa asyik dan senang setengah mati dengan sebuah permulaan. tapi saya yakin mereka yang suka ke- pertama-an itu pasti hanya segelintir di dunia ini.

Bila membahas ke-pertama-an saya di tahun ini? Saya punya cerita. Setelah enam bulan menjadi pekerja ‘lepas’ akhirnya tepat di awal tahun 2011 saya mengemban pekerjaan yang pertama di sebuah perusahaan ternama di negeri ini.

Sama seperti kata mevrouw Andrea yang maknanya juga serupa dengan persepsi umum akan sindrom ‘ke-Pertama-an itu,, pekerjaan pertama saya tidaklah mudah. Saya susah menghadapi, saya susah dihadapi dan saya susah mencari diri saya sendiri.
Awalnya saya selalu tenggelam dalam kebimbangan. Apakah saya cocok dengan bidang ini? Atau pekerjaannya yang tidak dapat dikompromi dengan diri saya? Apakah saya?? Ataukah saya?? Apa mungkin saya/ bagaimana kalau saya?

Beragam pertanyaan saya yang terus menerus tertuju pada saya ini membuat saya lelah.Kemudian saya terdiam sejenak dan sebelum terlelap, saya teringat sebaris keluhan yang kini terasa manis. “alles is moeilijk om te beginnen. And its true, this is my first job I think… its oke to be not easy…


Selasa, 25 Januari 2011

I Called it Lucky 26

Bicara tentang angka dan segala makna dibelakangnya, ga akan pernah ada habisnya. Suatu penjuru tertentu mempercayai angka tujuh sebagai pembawa keberuntungan . Sementara itu, dataran lain lebih setuju dengan angka delapan karena bentuknya yang bersambungan. Di lain pihak ada yang anti dengan angka tiga belas yang dikenal sebagai pembawa sial tapi di pihak lainnya, justru banyak yang sepakat dengan istilah the lucky thirteen.


Setiap kepala memiliki suaranya dan setiap mereka juga mempunyai angka-angka kepercayaannya. Begitu juga dengan saya. Selalu mengutamakan angka tujuh belas karena itu tanggal kelahiran saya. Alasan yang sederhana sih tapi saya sudah terlanjur bangga dengan figur 17 yang serupa dengan tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia. Kepercayaan ini tentu tidak disertai keyakinan yang serius dan berlebihan. Hanya untuk seru-seruan dan alat penangkal kebingungan dikala harus memilih salah satu angka diantara jutaan angka lainnya.


Beberapa teman saya sepakat dengan saya. Mereka mengisitimewakan angka kelahirannya dibandingkan angka-angka lainnya. Entah itu angka penunjuk tanggal, bulan maupun tahunnya. Tidak heran kombinasi angka special ini mereka jadikan sandi rahasia untuk akses-akses penting kehidupan mereka. Angka kelahiran sudah pasti dihafal diluar kepala dan tak mungkin tertukar.


Setiap tahunnya, tanggal 25 januariadalah tanggal penting dalam hidup saya karena merupakan hari ulang tahun dua orang sahabat . Salah satunya adalah Dita. Dia adalah Sahabat saya sejak duduk di bangku SMA di pulau dewata dan alhamdulillah tuhan menyambung kebersamaan kami hingga saya dan dia menjadi sarjana.


Kali ini saya ingin menyinggung tentang kebersamaan saya di jakarta bersama dia. Dita dan saya memang tidak sefakultas tapi seuniversitas, tidak sejurusan tapi sekamar di sebuah pondokan. Dengan begitu kebersamaan kami di awal-awal perkuliahan cukup tinggi hingga waktu, kesibukan dan panggilan cita-cita membuat kami tak selalu menghabiskan waktu bersama. Dia memulai aktifitas disaat saya masih terlelap dan kemudian saya menutup aktifitas disaat dia sudah terlelap dalam gelapnya kamar nomor 26.


Kamar 26 ini menyimpan banyak legenda. Mulai dari lantai yang meledak hingga membuat Dita terhentak dari tidurnya hingga tragedi matinya air dikala kami harus buru-buru mandi. Hampir semua kisah yang terekam dikamar kami selalu membuat geli bila diceritakan kembali. Saya sendiri sampai tak mampu berbagi semua kisahnya karena jumlanhya tak terkira.


Seiring berjalannya waktu kami mengukir prestasi satu persatu. Saya dengan bahasa belanda saya dan dia dengan segala kemahirannya di belantika komunikasi. Saya bahkan selalu terpesona melihat kiprahnya mengenyam ilmu sembari bekerja tak kenal waktu. Pagi bekerja, malam kuliah dan belum lagi begadang karena tugas –tugasnya yang menghadang. Uniknya, ditengah dinamika tersebut, Dita sempat-sempatnya memuja apa yang sedang saya laksanakan. Padahal menurut saya, pekerjaan saya hanyalah mahasiwa yang suka bercanda tawa sampai senja melanda.


Suatu ketika.. dewi fortuna sangat berpihak kepada saya. Sebagai mahasiswa, saya meraih beasiswa yang menurut saya juga sangat luar biasa nikmatnya. Jalan-jalan ke belanda tanpa biaya dan dan dapat uang buat hura-hura. Dita terkesima dan tergila-gila bahkan ingin menjelma saya. Sementara itu saya sendiri sudah sering iri dengan Dita yang sudah mandiri dengan berpenghasilan sendiri. Boleh dikata kami saling memotivasi diri dengan pencapaian masing-masing.


Kini.. kami tidak sekamar lagi tapi masih tetap menjalin komunikasi. Kamar 26 agaknya sering membuat kami saling merindu. Sosoknya yang pantang menyerah tetap tertanam di hati dan terus memotivasi hingga kini saya alhamdulilah akan memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Sementara itu mungkin Dita selama ini tengah berafirmasi akan keberuntungan saya dulu dan rupanya afirmasi positif itu kini membawa berita yang sangat adiktif bagi pendengarnya. Bulan depan nanti, Dita akan pergi ke Amerika. Tanpa diduga dia akan pergi selama dua minggu dan semua biaya ditanggung perusahannya. Luar biasa...


Sekarang saya tahu kenapa Dita begitu terkesima hingga tergila-gila mendengar pencapaian saya. Ternyata mendengar sebuah keberuntungan dan keberhasilan orang terbaik kita juga sama sensasinya ketika kita mengalaminya. Nikmat, puas, bangga tiada tara dan sesungguhnya tak cukup kata untuk melukiskan betapa saya turut bahagia mendengar dia akan terbang melihat kota-kota yang selalu menstimulasi mimpi-mimpi kita dulu dalam naungan kamar nomor 26.


Mungkin tidak terlalu berlebihan bila kini saya berpikir bahwa sebuah istilah baru telah terlahir. Lucky 26 is suddenly the lucky number of us.






P.S: Congrats and happy birthday dear Dita