i think...

Rabu, 21 Agustus 2013

Giovanna Battaglia: High Risk Taking Fashion Style Icon


Berbicara mengenai Gaya tentu tidak ada sebuah tolak ukur yang dapat dijadikan patokan yang mengesah kan suatu gaya itu yang paling benar. Gaya adalah elemen yang sangat personal, maka dari itu, masing-masing orang memiliki gaya nya sendiri.

Salah satu sosok yang akan diulas gayanya adalah Giovanna Battaglia. Battaglia adalah adalah seorang editor untuk majalah fashion Italia L'uomo Vogue. Selain itu, mantan model profesional ini juga menjadi contributor fashion di berbagai majalah.

Wanita ini seeperti tidak pernah kehabisan ide-ide yang tidak biasa dalam merepresentasikan dirinya dalam berbusana. Gayanya selalu terdiri dari salah satu unsur penting seperti; warna-warna menyala, aksesoris yang berukuran extra & potongan busana yang unik.

Hanya Giovanna Battaglia yang berhasil mengemas aksesoris hypersize menjadi cantik atau mengawinkan motif-motif aneh dalam balutan tubuhnya. Sepertinya dia paham benar rumus-rumus mendasar untuk menjadikannya tetap fashionable dalam balutan apapun.



undefined



" I always invent stuff randomly- kind of polished but still glamorous. Not too overloaded , but i try to have fun with my self. dressing up not being too obvious. Sometimes i'm just classic or wear crazy pair of shoes or accesories but i never overload it. " -Giovanna Battaglia



http://bazaarmaya.com/giovanna-battaglia 

Selasa, 07 Mei 2013

Late post: Something to learn from Alleira




Dulu… ketika menjadi salah satu PR Program  untuk sebuah stasiun televisi ternama di negeri ini,  saya kebagian tugas untuk mengurus sebuah acara yang cukup “rumit” dibandingkan dengan acara-acara harian lainnya, yaitu sebuah program kontes kecantikan. Sesuai tugasnya, saya kebagian memperisapkan serta menyusun segenap materi promosi tertulis. Mulai dari rilis, media kit hingga booklet acara.

 Akhirnya, untuk menyelesaikan tugas, saya mengumpulkan data-data para peserta, dewan juri dan para disainer yang turut berpartsipasi dalam acara tersebut. Di antara barisan nama  disainer ternama itu, hati saya tertambat pada salah satu brand batik kelas atas, Alleira Batik. Saking semangatnya profil para pendiri Alleira adalah lembar yang paling pertama selesai karena selain wajib menyelesaikan tugas, saya juga sedang mencari pembenaran di antara teman-teman saya .

Jadi, di antara teman-teman, saya adalah satu-satunya yang menentang pendapat bahwa Annisa Pohan adalah pemilik brand Alleira. Menurut teman-teman saya, Batik Alleira adalah milik menantu presiden  SBY karena (kata mereka) Alleira diambil dari nama anaknya, Aira. Makanya produk-produk Alleira selalu dipakai oleh Annisa dan Aira. Hehehe…  Alasan yang cukup bisa diterima dan Saya yakin tidak hanya kelima teman saya yang berpikir seperti itu.

Saya berpikir, betapa canggihnya strategi yang digunakan oleh tim Alleira hingga dapat menanamkan opini tersebut di beberapa benak masyarakat.  Sebab citra Batik Alleira yang berada di Mall-mall elite, mahal, kelas atas dan sangat mewah ini tepat sekali dengan sosok Annisa Pohan yang juga mewakili kemewahan, kemapanan serta elegan pada saat bersamaan. Bisa jadi  ada yang beranggapan bahwa brand “Allur”dibeli oleh Annisa Pohan  dan diganti menjadi Alleira.

Jumat lalu, 3 Mei 2013 saya berkesempatan untuk mendengarkan secara langsung “strategi-strategi” dari mereka yang beberapa tahun lalu saya tulis kisahnya. Selama hampir dua jam saya terpana mengedarkan segenap resep berbisnis yang memang tidak perlu diragukan lagi buktinya. Batik Alleira tidak hanya menjadi “tuan” di negeri ini tetapi sudah mulai memiliki tempat di hati pasar luar negeri.

Ibu Lisa Miharja, salah satu owner Alleira menjelaskan dengan detail bagaimana mereka menciptakan positioning produknya dengan jelas dan tegas. Alleira tidak di siapkan untuk bersaing dengan pasar tradisional yang sudah berakar. Alleira datang dan langsung memposisikan dirinya dengan sentuhan modern dan mencipakan kelasnya sendiri. 

Uniknya Alleira memadukan unsur timur dan barat (East & West) dalam konsep berbisnis. Sentuhan timur dipertahankan dalam proses memproduksi material Alleira yang menggunakan tehnik membatik dengan canting, malam dan lain sebagainya yang mana foto-foto proses ini ditampilkan Pak Zakaria saat presentasi. Sementara itu, unsur barat diaplikasikan pada sistem pengemasan, pemasaran dan penjualannya. Akhirnya, komitmen yang kuat dalam memegang prinsip East&West berhasil membuat Alleira berada di dalam daftar merk papan atas yang teruji kualitasnya.

Tidak hanya bercerita mengenai ilmu bisnis, para pendiri Alleira pun berbagi mengenai banyak hal, tentang bermimpi, membangun sebuah kepercayaan di dalam tim serta pentingnya menjadi penebar manfaat untuk banyak orang. Sebagai bentuk CSR, Alleira telah memberikan pelatihan kepada sebuah yayasan perempuan untuk mengolah sisa-sisa batik menjadi hiasan, boneka serta produk lainnya. Nantinya produk-produk itu dibeli lagi oleh Alleira. Wow.. 

Akhirnya setelah acara berakhir, saya mulai membuat coret-coretan, mulai mencoba mengitrospeksi dan belajar dari kesuksesan tim Alleira yang membranding Batik hingga ke luar negeri . Siapa tahu.. usaha –usaha yang sedang saya jalankan bisa ketularan suksesnya. Amin,,,

Thanks to #Road2IBF dan mas @yuswohadi yang memberikan kesempatan –kesempatan belajar seperti ini. 

Super Happy and Have a great holiday everyone 


Selasa, 10 Juli 2012

More or Less ? Less Is more




 Belakangan ini kosakata sehari-hari di dunia pergaulan bertambah, salah satunya ya kepo. Jujur saya penasaran kenapa kata kepo ini menjadi semakin fenomenal setiap harinya.  Ditambah lagi, kepo sudah masuk ke dalam kebiasaan baru  untuk sebagian besar orang saat ini.Meskipun saya tidak terlalu paham arti kata kepo secara harfiah  serta latar belakang sejarahnya, tetapi saya paham dengan makna terselubung di dalamnya.  Bahkan saya pun tidak akan mengelak jika saya juga mendapat gelar si kepo  karena memiliki kecenderungan yang selalu ingin tahu. Apapun itu. 


Rupanya kata kepo konon menurut http://kitabgaul.com/word/kepo  berasal dari bahasa hokkian. Terdiri dari dua kata yang digabungkan, ke artinya bertanya dan po adalah sebutan untuk seorang nenek tua. Kepo bila diartikan secara harfiah adalah kebiasan banyak bertanya seperti halnya seorang nenek (mungkin). Lucunya lagi ada yang mengatakan bahwa kepo itu adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object. Saya setuju dengan singkatan ini, karena jika sedang “mengupas” terkadang suka lupa waktu terutama ketika sedang ‘ngepoin” mereka-mereka  yang sedang beraksi memenangkan hati saya. 



Jauh sebelum kata kepo menjadi sangat populer, saya memang sudah terlahir sebagai anak yang selalu dilanda rasa haus keingin tahuan. Ingin tahu segala sesuatu, satu per satu. Mulai dari urusan pribadi hingga kehidupan penguin di Antartika bagi saya penting untuk diketahui. Bukan hanya sekedar tahu, tapi harus  tahu seluk-beluknya sampai detil. Akhirnya jadilah saya korban dari “dahaga” diri saya sendiri. Mata minus dan hidung beringus adalah sebagian dari efek samping  akibat begadang karena pikiran  yang penuh pertanyaan hingga memotivasi saya untuk terus mendeteksi sisi per sisi dari informasi yang saya peroleh.

Sekilas aksi ‘gerilya” ini tampak seperti tugas seorang detektif. Menggali-gali mencari kunci-kunci masalah dan dasar untuk menyusun strategi agar tidak dikelabuhi para musuh. Hal ini terjadi juga sejak saya remaja, ketika ada lekaki yang mendekati, aksi “ bergerilya” ini pun segera masuk dalam strategi. meskipun dulu era digital belum “berjaya” seperti saat ini, saya tetap berangkat dengan penuh teliti dan hati-hati menyeleksi orang-orang yang mendekati. Tak perlu lagi penjelasan panjang mengenai kemudahan proses seleksi pribadi –pribadi itu di era kini.

Bayangkan saja apabila dulu perlu waktu sekitar dua minggu untuk mengungkap fakta, sekarang 60 menit saja sudah kelebihan waktu untuk “memuaskan dahaga” penasaran saya. Beruntung salah satu teman terbaik juga memiliki “kemahiran” yang serupa. Akhirnya ‘ilmu’ ini pun semakin lengkap setiap bertukar pikiran dengannya. Tehnik-tehnik kepo saya makin solid dan tentunya informasi semakin padat berisi dari segala sisi.

Sekarang saya mengerti, kini rupanya tidak hanya saya dan teman saya yang hobi bergeriliya mencari  informasi  yang selanjutnya aksi ini disebut ‘dengan istilah “kepo”. Tak ada salahnya menjadi kepo asalkan tetap beraliran energi positif. Jangan menjadi resah apalagi sampai ikut membocorkan aib orang yang bukan tidak mungkin kita dapatkan after kepo-ing . Jadikan informasi  sebagai senjata sebelum berperang, tapi ingat, bila ingin menyelamatkan diri sendiri bukan berarti kita harus membunuh identitas orang-orang yang  lain. Pendeknya, kepo itu sah-sah aja asalkan tidak berlebihan jika kamu tidak mau jiwamu tergoncang dan tubuh meriang.  jangan lupa, “ less is more”