i think...

Minggu, 10 Juli 2011

Bertukar Peranan

Bertukar peranan tentunya menjanjikan sejuta kesan yang mungkin dahlu hanya melintas singkat di benak pikiran saya.

Dahulu,,, ketika saya sudah mulai mengerti indahnya menyaksikan gerak-gerik serta warna-warni yang menghiasi televisi, mama saya kemudian mengenalkan rangkaian karya audio visual yang tersaji di layar yang lebih lebar lagi yang selanjutnya menjadi esensi penting dalam masa pertumbuhan saya.

Saya tidak terlalu ingat film pertama yang saya tonton dan meskipun saat itu tergolong penonton anak bawang yang kadang tak sampai habis membaca teksnya, saya telah mengerti bagaimana cara terbaik untuk menikmati film yang saya tonton. Semenjak itu, menonton ke bioskop menjadi agenda rutin pengisi liburan dan akhir pekan.

Saat itu, dan kini lebih tepat disebut dulu, saya adalah penonton. Menjadi penonton yang hanya tahu judul film yang saya tonton dan siap menerima ragam kesan dari apa yang saya lihat. Berawal dari kesan kita mampu menggali pesan yang ingin disampaikan dan bahkan dari kesan itupun kita tidak jarang mampu mengkritik sebuah karya tanpa mempedulikan betapa beratnya jerih payah mereka di balik itu semua.

Beberapa hari yang lalu, sebelum waktu menggeser tanggal 5 menjadi 6, akhirnya saya menyaksikan sebuah karya yang sudah lama saya nantikan. Film Surat Kecil untuk Tuhan. Film ini adalah anggota baru di ranah perfilman nusantara dan Sineas dibalik film yang diangkat dari kisah nyata ini adalah kakak saya sendiri. Akhirnya tanpa diminta ataupun meminta saya turut tercebur di dalam segala-galanya mulai dari persiapan, pembuatan, hingga prosesi penyambutannya. Meski keterlibatan saya ini hanya sekedar bertukar pikiran & angan-angan, Sudah pasti… kini kondisi psikis saya ketika menikmati film ini tidaklah murni sama dengan masa ketika saya menjabat sebagai penonton saja.

Ada sebersit rasa keliru ketika mendapati diri tercebur terlampau dalam di film ini. Tetapi setelah dipikir ulang, hal itu tidak dapat dihindari mengingat kedekatan kami yang sedarah dan juga tinggal serumah ditambah kami memang memiliki hibungan keluarga yang erat. Otomatis peranan menjadi 'semi-penonton' ini harus disandang.


Ketika menjabat sebagai penonton saja,itu jauh lebih mudah. Menonton kemudian pulang membawa kesan yang sangat personal lalu kemudian terkenang bila memang patut untuk dikenang. Sementara itu, sekarang, ketika pulang setelah menonton, kesan personal justru menjadi tak tenang untuk dikenang. Melihat aksi reaksi sekitar, komentar dari lingkar luar produk kreatif ini mulai membuat hati resah dan gelisah. Apalagi Saya tergolong anggota yang paling terakhir menikmati apa yang kita sebut “karya bersama“ ini.

Ulasan-ulasan yang mengendap tentu tidak selalu sesuai dengan apa yang kami harap. Ada yang memuja sampai berkata bahwa sang sutradara adalah mahluk setengah dewa yang mampu memerdekakan penonton dengan cara yang sederhana. Adapula yang mengantar hinaan yang bahkan seandainya diucapkan akan memekakkan telinga pendengarnya.


Sejenak, hati sempat melemah karena resah. Tak dapat dipungkiri, yang tercela selalu lebih unggul mencetak mind-blocking di pikiran saya (dan mungkin juga orang-orang lain yang belum menonton film ini). Saya sempat tercekat mengingat pilihan kata-kata yang diurai hanya untuk meletakkan karya dan orang-orang di dalamnya itu kedalam dimensi yang letaknya sangat jauh dari adab kebanggaan.


Saya akui tidaklah mudah menjadi pribadi yang pasrah dengan deraan berupa cacian. Belum lagi ragam kesulitan yang tersaji hingga detik peluncuran film ini. Seandainya mereka tahu, tidak hanya peluh lelah, gelisah dan airmata turut mengiringi rintangan yang menguji. Lagi-lagi saya terluka disaat asa kian ternoda. Tetapi lagi-lagi dengan segenap hati saya meyakini bahwa semua kesulitan pasti datang dengan tujuan. Saya mencoba menyerahkannya kepada yang paling Berkuasa di dunia ini karena saya yakin setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan.


Alhamdulillah, meskipun sebagian mencela tanpa sisa, paling tidak kami kini dapat tersenyum bangga menyaksikan mereka yang bahagia menikmati karya yang sudah kami ciptakan dengan segenap rasa cinta dan pengorbanan tanpa pamrih. Sebagian besar sasaran penikmat film ini memberikan pujian dan mampu membawa semangat yang dititipkan di dalam film Surat Kecil Untuk Tuhan.







Seperti yang saya katakan sebelumnya, pertukaran peran dari penonton saja menjadi 'semi penonton' ini kemudian mengharamkan saya mereview film Surat Kecil untuk Tuhan dari sisi diri sendiri, karena tanpa perlu berlama-lama kalian juga sudah tau apa tanggapan saya.






kini tidak berlebihan bila kami berikan persembahan dari hati ini memang untukmu wahai sahabatku :)





Jumat, 17 Juni 2011

Puing-Puing Skripsi

oh NO!!!!

sekarang sudah setahun berlalu

saat itu, 17 Juni di tahun lalu

ketika segala perjuangan sedang dipertanyakan

dan alhamdulilah :) saya Lulus


untuk mengenang masa-masa itu,
saat dimana skripsi berhasil memutarbalikkan duniaku

turut ku sertakan seberkas tulisan di bulan April, di tahun lalu



Bunga and Her BackPack

Kalau melihat judulnya pasti suasana yang timbul di benak hati adalah” ooo,,, ini pasti akan bercerita betapa serunya perjalanan keliling asia atau traveling hemat di eropa atau apalah lagi..”

Tapi.. sayang disayang.. Bunga en d’ Backpacker bercerita berbeda. Sebelum menembus kisah Bunga,, mari kita berkenalan dengan Bunga.

Bunga adalah seorang gadis biasa yang sangat perempuan. Mulai dari nama hingga penampilan dan pembawaan dirinya. Sampai-sampai.. orang –orang disekelilingnya tahu bahwa bunga nyaris tidak pernah memakai sepasang sepatu keds untuk menemani hari-harinya. Nyariiiis... karena sepatu keds digunakan hanya sesuai dengan fungsinya : olahraga dan alas kaki menuju sekolah menengah ( dulu....)

Dari bawah mari kita naik ke atas sedikit. Bunga jarang sekali membiarkan kedua bilah kakinya dipeluk erat oleh celana karena dia lebih suka mengenakan lembaran kain yang dijadikan rok atau terusan khas untuk perempuan. Namun semenjak kuliah, keadaan menuntutnya menahan kemauannya, dinamika kota Jakarta yang padat merayap dan tidak senyaman kampung halaman nya itu membuatnya mau tidak mau memiliki beberapa pasang celana panjang.


Tapi.. Bunga tetaplah Bunga, sisi maskulinitas tetap tidak terasa mendominasi karena bagian torsonya selalu terbalut blus berpotongan wanita ayu era Victoria. Ruffles, rimple, renda, polkadot, flowery, and tali temali pasti menjadi pilihannya. Jadi jangan kaget kalau isi lemari Bunga nyaris tidak menemukan lembaran kaos oblong. Belum lagi.. tas nya tidak pernah membebani punggungnya, selalu tertata rapi di samping kanan atau kiri tubuhnya. Pendek kata,, she has no backpack at her closet..


Selain itu.. hal yang sulit terlepas dari sosoknya adalah rangkaian aksesoris yang entah itu menumpuk di pangkal tangan atau melingkar di leher atau bahkan tersemat manis di tengah-tengah rambutnya yang panjangnya juga tidak pernah diatas bahu.
Huuwh,,, sungguh melelahkan bila membayangkan perangkat gadis bernama Bunga.. Tetapi lebih lelah lagi melihat dia yang kini tengah sibuk dengan skripsinya. Boleh dikata skripsi telah mengalihkan dunia perempuan Bunga. Skripsi membuatnya harus menyertakan seperangkat laptop dan bundelan kertas-kertas hasil bimbingannya. Sebulan lebih dia berskripsi dengan semua perangkat cantiknya yang melengkapi tubuhnya.


Tetapi perempuan ini mulai melemah mendapati tangan kanan dan kirinya dipenuhi perangkat skripsi. Akhirnya Bunga harus mengalah dengan egonya sebagai perempuan karena dia.. kini berjalan dengan boy friend’s t-shirts lengkap dengan Backpacker yang jauh sekali dari kata Girlie...

Kamu tau apa respon di sekitar Bunga? Hampir setiap hari, semua teman dekat bahkan yang tidak begitu dekatpun selalu bertanya


“ Kenapa Bung????? Lo lagi sakit?? “

Sang Bunga pun hanya tertawa membalas reaksi teman-temannya dan berkata

”sampai ketemu Bunga yang sebenarnya pas wisuda”


Selasa, 14 Juni 2011

(tak) Selalu Berlalu

Pekan lalu… seorang kerabat dekat harus merelakan orang terkasihnya pergi meninggalkan dunia. Meskipun telah mendapat perawatan secara intensif , Tuhan sudah menetapkan untuk membawa si Ayah kembali ke pangkuan-Nya pada hari Jumat lalu.


Medengar Berita ini, sekujur tubuh ikut terkejut mengingat sulitnya menghadapi kenyataan tersebut. Segera terputar kembali potongan-potongan cerita bulan November dua tahun lalu yang membuat diri hanyut dalam kesedihan


Selesai bekerja, kami segera menuju rumah duka. Entah mengapa simbol-simbol kedukaan yang ditemui di sepanjang perjalanan mulai berperan menenggelamkan diri ini ke masa lalu (yang mungkin belum berlalu)


aku melihatnya, dia, sosok yang ditinggalkan itu melemah dan dengan genangan air mata yang mendesak di pelupuk matanya.aku berharap sebuah pelukan dari yang lebih berpengalaman ini mungkin akan sedikit menyembuhkan rasa sesak karena segala jenis ketidak siapan hati nurani.


Sembari berjalan menemui sang ibunda, detak jantungku semakin tak karuan. Ada sebersit rasa takut namun tak mungkin aku datang tanpa melantukan bela sungkawa kepada mereka.


Ku teruskan melangkah,,, seolah menguji diri sendiri untuk menghadapi masa kini Kuberanikan mengintip dari sudut mataku, melihat sosok yang sudah dibalut rapih dengan kain batik berwarna coklat gelap. Aroma bunga melati berpadu kayu cendana mulai merasuki penciumanku dan aku tak kuasa lagi …